tri dekorasi kliwonan

Kami TRI Dekorasi kliwonan disolo melayani jasa sewa tanaman hias. ,rental tanaman untuk kantor apartemenHotel.gedung di wilayah solo  dan mini garden,dekorasi pernikahan,dekorasi siraman dan dekorasi kamar penggantin.Dekorasi bunga untuk peresmian kantor.dekorasi untuk acara peresmian dan seminar dikota solo,dekorasi bunga untuk acara wisuda di solo silahkan menghubungi kami di no tlp kami 085841216585(mas budi) 081240994973    (Mas yuli)082136353410  (pak sri)Kami juga menyediakan berbagai tanaman hias untuk keperluan kantor,rumah maupun apartemen anda di kota solo. Kami siap membantu mewujudkan keindahan dan keasrian dengan tumbuhan hias sehingga hati dan pikiran menjadi segar dan fresh kami tidak memasang harga namun harga bisa menyesuaikan sesuai anggaran anda diwilayah kota solo dan sekitarnya.kami tri dekorasi kliwonan mengucapkan terima kasih atas kunjungan anda somoga hari anda menjadi lebih berkesanSilahkan kalau ma hunting ke green office tri dekorasi kliwonan04/07, JL. Raya  Kalioso-Simo km 0,8, 57378, Boyolali

Dekorasi solo

Dekorasi solo kalioso ok
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2012

Kereta unik

TRANSPORTASI UNIK -- Kereta Widaya, wahana transportasi mirip becakyang dipakai untuk berwisata di dalam kompleks Keraton Solo. Uniknya, para penumpangnya bisa ikutmenggenjot kereta ini. (JIBI/SOLOPOS/Hijriyah Al Wakhidah) SOLO –Kereta Widaya, begitu nama yang dimiliki wahana transportasi yang satu ini. Namun jangan bayangkan ini sebuah kereta yang ditarik kuda layaknya kereta kencana. Bentuknya justru mungil dan unik, mirip becak, namun dengan empat roda, dengan sang pengemudi duduk di sisi kanan depan, mirip pengemudi mobil. Yang juga lebih unik, kendaraan ini memiliki empat pedal genjotan seperti sepeda. Jadi para penumpangnya bisa ikut menggenjot membantu sang pengemudi. Kendaraan ini adalah kreasi Sri Wahyudi. Nama Widaya adalah singkatan dari Wisata Budaya, menuruti fungsinya sebagai tunggangan untukdipakai berwisata di kawasan Keraton Solo. Salah satu wisatawan yang menikmatinya adalah Lidya, asal Jakarta. Baginya, berwisata dengan menaiki Kereta Widaya memberikan kesan tersendiri. Bukan hanya dirinya bisa dengan santai menikmati suasanadi kompleks Keraton, khususnya di jalan-jalan kecil permukiman para pejabat dan abdi dalem di Baluwarti, dia pun mengaku bisa berwisata dengan sehat karena ikut menggenjot kereta. Menurut sang pengelola, Sri Wahyudi, kereta itu dibuat dan dirancang sebagai alternatif transportasi wisata bagi masyarakat Kereta itu dibuat dengan investasi sekitar Rp 7 juta hingga Rp9 juta per unit. “Kami punya enam Kereta Widaya, yang hampir tidakpernah berhenti melayani tamu, baik siang maupun malam,” kata Wahyudi, saat ditemui Espos , di halaman Pagelaran Keraton Kasunanan Surakarta, belum lama ini. Rute wisata yang ditawarkan adalah mulai dari bagian depan Keraton, kemudian ke perkampungan di dalam kompleks Beteng Keraton, hingga melihat dan berinteraksi dengan kerbau keturunan Kyai Slamet. Soal tarif standar, pengelola menetapkan tarif Rp 45.000 sekali jalan per kereta. Tiap kereta bisa membawa maksimal lima orang, di mana sang pengemudi sekaligus berfungsi sebagai pemandu. Penumpang juga akan mendapat fasilitas berupa belangkon,samir dan stiker. Lama perjalanan sekitar 30 menit hingga 45 menit. “Kalau ada tamu yang menginginkan rute tambahan, maka ada tarif tambahan tapi sifatnya sukarela,” jelas Sri Wahyudi.

Kampung pande besi

Ingin tahu seperti apa para pandai besi dalam keseharian mereka bekerja, memroduksi aneka alat bantu kerja? Anda bisa menyambangi Dukuh Ngegot, Desa Sumberagung, Kecamatan Klego, Boyolali. Daerah itu dikenal sebagai daerah pusat pandai besi yang menghasilkan pisau dapur,sabit dan peralatan pertanian lain yang peredaran produknya sudah mencapai luar Jawa. MEMBUAT SABIT— Salah seorang pandai besi warga Dukuh Ngegot, Desa Sumberagung, Klego, Pujiman bersama istrinya membuat sabit di rumah mereka. (JIBI/SOLOPOS/Ahmad Mufid Aryono) “Tidak semua warga Ngegot bisa membuat peralatan itu. Hanya beberapa orang. Itupun diperolehnya secara turun-temurun,” ujar Kadus V Ngegot, Sumberagung, Romadhin. Romadhin menjelaskan perbedaan Ngegot dengandaerah sentra pandai besi lain di Boyolali terletak padafinishingalat yang dibuat. Diakui Romadhin, harga jual peralatan dari Ngegot lebih mahal dibandingkan dengan tempat lain. Namun hal itutidak menyurutkan konsumen untuk terus membeli peralatan pertanian dari Ngegot. “Meski lebih mahal, hasil produksi warga Ngegot itumasih banyak dicari oleh warga. Bahkan penjualan hingga ke luar Jawa,” papar dia. Selain berproduksi di rumah, warga juga melakukan penjualan dengan membuka kios di sejumlah pasar di wilayah Boyolali utara. Menurut Romadhin, tiap hari pasar atau pasaran , warga memilih membuka usaha pandai besi dan penjualan di pasar-pasar yang baru pasaran . Selain di Pasar Kemusu, juga di beberapa pasar lainnya dan Pasar Ngegot sendiri. Selain dibuat secara manual, jelas Romadhin, yang membedakan peralatan tersebut buatandari Ngegot atau lainnya terlihat dari tanda empu atau pembuat, baik huruf maupun tanda-tanda khas lainnya di produk mereka. Salah seorang perajin pande besi di Ngegot, Pujiman menjelaskan usaha pembuatan pande besi itu sudah dilakoninya bertahun-tahun. Pasalnya, usaha itu sudah turun-temurun dari keluarganya. Romadhin menambahkan awalnya para pandai besi itu menggunakan peralatan sederhana untuk membuat peralatan pertanian, seperti sabit dan cangkul. Namun sekitar tahun 2000-an, warga memperoleh bantuan dari Pemkab Boyolali berupa blower dan gerinda untuk membuat peralatan. Blower itu, jelasnya, digunakan untuk memudahkan memanasi besi yang akan dibentuk menjadi alat. “Selama ini para pande besi hanya menggunakan dua tabung seperti pompauntuk memanasi besi. Tetapi sekarang sebagian besar sudah menggunakan blower listrik sehingga lebih cepatpemanasannya,” papar dia. Dengan peralatan tersebut, jelas Romadhin, pande besi bisa menghasilkan sekitar dua kodi atau sekitar 40 buah sabit dalam berbagai ukuran dalam sehari.

Musium Tni adi soemarmo

Belum terlalu lama, Komandan Komando Pendidikan TNI AU (Kodikau) Marsda TNI Bagus Puruhito meresmikan Museum Sejarah Adi Soemarmo yang terletak di dalam kompleks Pangkalan TNI AU Adi Soemarmo di Colomadu, Karanganyar. Karena penasaran dengan museum ini, Espos pun mengunjunginya. MUSEUM SEJARAH -- Bangunan Museum Sejarah Adi Soemarmo di dalam kompleks Pangkalan TNI AU Adi Soemarmo di Colomadu, Karanganyar. (JIBI/SOLOPOS/R Bambang Aris Sasangka) Lantaran letaknya yang terselip di dalam kompleks militer, prosedur masuknya pun rada ribet. Penulis harus melapor dulu ke pos penjagaan Polisi Militer TNI AU dari pintu masuk di sebelah timur. Setelahmeninggalkan tanda pengenal di pos, baru ditunjukkan jalan menuju museum, yang terletak bersebelahan dengan kantor Penerangan dan Perpustakaan (Pentak) Lanud Adi Soemarmo.SEPEDA PATROLI -- Sebuah sepeda tua yang dulu dipakai prajurit TNI AU berpatroli atau melaksanakan tugas lain. (JIBI/SOLOPOS/R Bambang Aris Sasangka) Bangunannya tak terlalu besar, mungkin seukuran rumah tipe 54. Koleksinya pun masih terlalu sederhana dan sedikit bagi sebuah museum. Barang yang terpajang di antaranya replika sepeda kayuh yang dulu biasa dipakai prajurit TNI AU untuk berpatroli. Ada juga contoh kursi kayu yang biasa dipakai di ruang kelas sekolah bintara atau tamtama. Selain itujuga ada dudukan senjata senapan mesin berat yang menurut keterangan biasa dipakai untuk latihan.DOKUMENTASI FOTO -- Foto-foto lama kegiatan di Lanud Adi Soemarmo atau yang dulu dikenal sebagai Lanud Panasan juga dipajang di museum ini. Sayangnya penataan foto dan keterangan pendampingnya masih kurang memadai dan kurang informatif. (JIBI/SOLOPOS/R Bambang Aris Sasangka) Dijumpai pula contoh lemari kayu yang dipergunakan para siswa sekolah bintara dan tamtama di asrama mereka. Di atas lemari itu ada radio komunikasi yangberasal dari tahun 1940-an. Terdapat pula beberapa manekin yang mengenakan seragam dengan emblem yang berbeda. Ada seragam prajurit sekolah bintara, tamtama, seragam siswa Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) dan pakaianoveralloranye siswa sekolah penerbang. PAHLAWAN -- Adi Soemarmo, yang namanya diabadikan sebagai nama Pangkalan TNI AU dan Bandara di Solo. Adi Soemarmo gugur bersama dua tokoh perintis TNI AU lainnya yaitu Adisutjipto dan Abdulrachman Saleh saat pesawat yang mereka tumpangi ditembak jatuh oleh pesawat tempur Belanda menjelang mendarat di Lanud Maguwo, Jogja, atau yang kini lebih dikenal sebagai Bandara dan Lanud Adisutjipto. (JIBI/SOLOPOS/R Bambang Aris Sasangka) Selain barang-barang itu, ruangan museum lebih banyak diisi pajangan foto-foto sejarah umum TNI AU dan kliping majalah kedirgantaraan tentang TNI AU. Terpasang pula foto dan keterangan mengenai sejumlah monumen yang berkait dengan sejarah Lanud Adi Soemarmo.Memang masihsangat sederhana museum ini. Masih dibutuhkan lebih banyak upaya dari pengelolanya untuk menambah koleksi barang atau memorabilia agar pengunjung bisa mendapatkan pengetahuan yang lebih lengkap mengenai sejarahTNI AU dan lebih khusus lagi, sejarah Lanud Adi Soemarmo dan sosok Opsir Muda Udara Adi Soemarmo yang namanya diabadikan di pangkalan itu.R Bambang Aris Sasangka

Wisata piramida peninggalan suku maya

Kalau Anda mencari piramida, pikiran mungkin tertuju ke piramida di Mesir atau piramida peninggalan Suku Maya di benua Amerika. Nah, siapasangka kalau kita bisa menemukan piramida serupa di salah satu sudut Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, tepatnya di di Sonosewu, Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban. PIRAMIDA SUKU MAYA -- Miniatur piramida CichenItza ini bisa menunjukkan efek serupa seperti aslinya saat matahari mencapaiposisi tepat di khatulistiwa (ekuinoks). (Espos/Adib Muttaqin Asfar) Di sebuah tempat bernama Sashasra Adhi Pura, bukan hanya piramida yang bisa kita jumpai, namun juga 50 buah miniatur bangunankuno yang aslinya tersebar di seluruh dunia. Di bagian depan ada miniatur Candi Borobudur. Sedangkan dibagian dalam berdiri piramida Chicen Itza yang aslinya ada di Yucatan, Meksiko. Ada pula miniatur Stonehenge dari Inggris, kuil Mnajdra di Pulau Malta, Piramida Agung Mesir, Serpent Mound di Ohio, AS, lukisan batu dari Tassisi Najjer, Axum Eturgin di Afrika dan puluhan bangunan lainnya.STONEHENGE -- Miniatur bangunan batu asal Inggris, Stonehenge,juga bisa dijumpai di Pura Sashasra Adi, Moholaban, Sukoharjo. (Espos/Adib Muttaqin Asfar) Meskipun jauh lebih kecil daripada aslinya, ukuran bangunan-bangunan dibuat proporsional. Selainitu, posisi dan arah masing-masing miniatur dibuat sedemikian rupa sehingga bisa menunjukkan arah matahari saat titik balik utara, titik balik selatan dan dua kali ekuinoks atauposisi saat matahari berada tepat di khatulistiwa. Sehingga, walaupun koordinatnya berbeda dengan bangunanaslinya, miniatur bangunan ini bisa menunjukkan fungsi yang sama sebagai penunjuk posisi matahari.50 bangunan yang miniaturnya ada di pura ini tidak hanya menunjukkan posisi matahari dengan tepat, melainkan posisi benda angkasa lain seperti bintang dan bulan. Piramida Khufu atau Piramida Agung Mesir menunjukkan secara persis arah kutub utara sumbu rotasi bumi. Selain itu, di dalam piramida ada lorong atau celah panjang yang mengarah tepat ke empat rasi bintang yaitu Orion, Sirius, Alpha Draconic dan Beta Ursa Minor.Miniatur-miniatur ini ditempatkan di lahan terbuka di kompleks pura dan bisa dilihat oleh siapa pun. Material yang dipakai juga mirip dengan aslinya. Untuk piramida, Stonehenge atau candi, miniatur dibuat dengan bahan dasar batu. Sedangkan yang berupa gundukan tanah seperti Serpent Mound, bentuknyajuga hanya berupa gundukan tanah yang dibentuk mirip dengan aslinya. Lain halnya dengan lukisan raksasa di lahan pasir Nazca, Peru. Miniaturnya dibuat dari campuran semen yang ditutup dengan pasir. “Sayang, pasirnya banyak yang terlepas karena pengaruh panas dan hujan,” ujar Kjartan Johansen, pengelola Sashasra Adhi. MENARIK PERHATIAN -- Pengunjung tengah melihat-lihat bangunan yang ada di kompleks Pura Sashasra Adi. Meski menyandang nama pura, tempat ini terbukasetiap saat bagi siapa saja. (Espos/Adib Muttaqin Asfar) “Ini seperti kalkulator raksasa bagi orang-orang zaman dulu,” kata Kjartan. ”Berbeda dengan sekarang ini, kita selalu dimanjakan teknologi. Tapi bagi orang dulu, mereka mengandalkan matahari sebagai penunjuk.”Sudah lama Kjartan tinggal di Indonesia. Pria asal Norwegia ini mulai menginjakkan kaki di Pulau Jawa pada 1992. Sama dengan kebanyakan orang Barat lainnya, dia datang ke negara ini untukberwisata.Siapa sangka dia akhirnya memutuskan tinggal di Solo hingga hari ini. Adalah Hardjanta Pradjapangarsa, seorang guru spiritual sekaligus pendiri Sahasra Adhi Pura yang membuatnya betah di Solo. Bersama Hardjanta, Kjartan belajar banyak tentang spiritualisme Hindu. Dia memutuskan meninggalkan semuanya, pekerjaan, Tanah Air dan keluarganya. “Di sini, saya sudah menemukan yang saya cari. Jadi sudah tidak ingin ke mana-mana lagi,” ujarnya. Dia tak sendirian. Ada beberapa warga negara lain yang juga menjalani hal serupa. Istrinya, Cleo, adalah warga Kanada. Mereka bertemu di Baluwarti. Waktu itu, pura belum dibangun dan masih berkumpul di Baluwarti, Pasar Kliwon, Solo. Pura itu baru dibangun pada 1998. Selepas meninggalnya Hardjanta, Kjartan meneruskan tugaspembangunan pura yang kini berdiri di Solosewu, Wirun, Mojolaban. Meski berbentuk pura, menurutnya, tempat itu adalah tempat universal yang terbuka bagi siapa saja. Universalitas itu ditunjukkan dengan miniatur-miniatur bangunan purba dari berbagai penjuru dunia. Bangunan-bangunan purba itu banyak yang dibangun oleh bangsa yang bukan penganut Hindu. “Sebenarnya dasar semua kepercayaan itu sama. Jadi kami menghormati dengan menempatkan semuanya di sini,” lanjut Kjartan. Sebagai ahli konstruksi, dia ikut merancang desainpura yang kini diisi 50 miniatur bangunan purba. Perhitungannya cukup rumit, yaitu menempatkan miniatur bangunan agar tepat menunjukkan arah matahari saat titik balik utara, titik balik selatan ekuinoks. Pembangunan ini belum rampung karena rencananya bakal dibangun total 1.000 miniatur bangunan purba. Maka, tidak heran pura ini menjadi langganan kunjungan siswa dari berbagai sekolah. Umumnya mereka tertarikuntuk melihat bangunan-bangunan kuno di seluruh dunia di satu lokasi. Selain melihat bentuknya, siapa pun akan sadar tingginya peradaban masa lalu dan tidak semuanya bisa terjangkau oleh orang modern.

Kampung wisata baluwarti

Sebagai kampung wisata budaya, Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo kaya dengan berbagai potensi seni budaya. Banyak hasil karya seni budaya tradisional diproduksi di Baluwarti. Seperti pernah diungkap di sini, di RW VII ada berbagai macam karya seni keris, dari yang sederhana hingga paling rumit. Dari yang ratusan ribu rupiah hingga ratusanjuta rupiah.Demikian pula di RW II diproduksi berbagai macam alat musik tradisional rebab, juga aksesoris dan kerajinan daur ulang kertas koran. Sedangkan di RW III ada karya seni yang terbilang langka, yakni wayang beber. Adalah Joko Sri Yono, 59, seorang pengrajin. Di RT 01/RW III, Joko yang asli warga Baluwarti ini tinggal bersama keluarganya, ditemani istri Sukarti dan dua anaknya. Di rumah sederhana ini Joko menekuni wayang beber. Tapi, Joko juga melakukan aktivitas lain untuk menyambung hidup sehari-hari. Ini karena membuat wayang beber belum dapat dijadikan andalan untuk mata pencaharian. Ketika Espos ke kediamannya, awalnya ditunjukkan hasil karyanyaberupa selembar kain yang dilukis gambar wayang menceritakan sebuah kisah. Joko kemudian menunjukkan tabung besar berisi puluhan gulungan film, yang merupakan lukisan dasar gambar wayang beber. Wayang beber juga ada pakemnya, yang dibuatnya dalam film itu. Bahkan, Joko juga membuat wayang beber di luar pakem, yang merupakan hasil kreasinya. Sesuai pakem, menurut Joko, jika wayang kulit adakisah Mahabarata dan Ramayana yang berasal dari India. Untuk wayang beber justru kisah asli Indonesia, yakni dari Kerajaan Kediri, berupa cerita petualangan Panji Asmorobangun saat mencari Dewi Sekartaji. Mahasiswa ISI Solo pernah ada yang melakukan penelitian untuk skripsinya, sampai ia datang ke daerah asal wayang beber kali pertama dibuat yakni Desa Kedompol, Pacitan, Jatim. Di sana wayang beber dilakonkan seperti wayang kulit dan ada dalangnya. Dalang yang ada sekarang generasi ke-13. Di berbagai daerah seperti Solo tak ada dalang wayang beber. Yang ada tukang sungging wayang beber seperti Joko. Sejak kecil, Joko berpikiran, ”Dengan menekuni ini bisa untuk hari tuaku. Wayang beber harus terus diuri-uri, dan saya akan terus melakukannya.” Sehingga meski penghasilannya tak seberapa, Joko terus menggeluti. Ditanya soal harga, Joko keberatan menyebutkan. Alasannya, hasil karya seperti ini tak ternilai harganya. Namun, akhirnya mengakui satu lembar wayang beber yang mengisahkan satu lakon, dihargai sekitar Rp 1 juta. Dua pekan Untuk menggambar sebuah karya, tiap lembarnya membutuhkan waktu dua pekan. ”Ini kalau full time. Kalau disambi ya bisa satu-dua bulan.” Sejak kecil Joko sudah bergelut dengan dunia seni. Ayahnya pun orang keraton, driver khusus PB X. Dari segi penghasilan, Joko mengakui, dengan membuat wayang beber hasilnya tak seberapa, tapikalau seni adiluhung ini ditinggalkan juga amat sayang. Maka, untuk menyambung hidup, Joko sempat bekerja di Batik Semar. Joko berharap wayang beber dikenalkan sejak dini kepada anak-anak. Karena, anak perlu tahu berbagai macam wayang, seperti wayang suket yang digeluti Slamet Gundono, wayang kampung sebelah milik Ki Jlitheng Suparman, juga wayang beber yang mengedepankan seni lukis. Lurah Baluwarti Tuti Orbawati R SSen MSn yang lulusan ISI Solo, mengaku bangga dengan warganya yang memiliki banyak potensi. Karenanya dia akan terus mengupayakanBaluwarti sebagai kampung wisata seni budaya

Wisata tirtomoyo

Semua rasa curigakuterhadapmu Semata karena ku takut kehilanganmu Maka jangan coba tuk berpaling darimu Berpaling mengkhianatiku… Sepotong lirik lagu SKJ yang dipopulerkan oleh grup band, ST 12 itu mengalun lantang dari alat pengeras suara di Kolam Renang Tirtomoyo Jebres, Solo, Minggu (14/3) siang. Seolah alunan lagu itu menjadi satu-satunya hiburan bagi para pengunjung kolam yang kondisinya memprihatinkan itu. Betapa tidak, kondisi fisik kolam renang yang pada masanya sempat menjadi primadona wong Solo itu, kini tak lagi rupawan. Di beberapa bagian terdapat kerusakan, sehingga mengurangi kenyamanan pengunjung. Kerusakan paling kentara yakni di bagian atap bangunan dimana sebagian eternit telah jebol. Ironisnya, kerusakantersebut telah berlangsung cukup lama. Pihak penanggung jawab kolam tak kunjung memperbaiki kerusakan. Yang juga membuat tak menarik yakni cat bangunan yang sebagian besar telah mengelupas. Kendati tidak begitu berpengaruh, namun kurangnya perawatan kompleks kolam dikeluhkan pengunjung. “Sebenarnya untuk kolam tidak kalah bagus dengan kolam lain, tapi bangunannya sudah jelek sejak lama,” ujar Dadang, 23, pengunjung Kolam Renang Tirtomoyo asal Ngepuh, Sawahan, Pasar Kliwon, Solo. Penuturan senada disampaikan Odi Arvianto, 17, asal Sanggrahan, Grogol, Sukoharjo, yang sering berenang di kolam Tirtomoyo. Menurut dia, bangunan kolam milik Pemerintah Kota (Pemkot)Solo tersebut terkesan kurang dirawat. Pada bagian lain, Kasi Kolam Renang Tirtomoyo, Sumardi, melalui asisten pelaksana, Ratmoko, menuturkan, jumlah pengunjung kolam relatif sedikit tiap harinya. Hanyapada hari Minggu, jumlah pengunjung bisa mencapai300-an orang. Dia menguraikan, jumlah pengunjung pada hari biasa hanya sekitar 60-100 orang atau setara pendapatan Rp 100.000 dengan harga tiket Rp 3.000. Pada hari libur harga tiket dinaikkan menjadi Rp 3.500 per orang. Mengenai kerusakan bangunan, dia mengakui sudah sejak lama dan belum diperbaiki. Pihaknya sebatas fokus pada pengelolaan kolam supayaair tetap bersih dan tidak dikeluhkan pengunjung.

Taman wisata lawean

Kawasan wisata di Kelurahan Laweyan terus berkembang dan semakin menarik banyak wisatawan. Hal ini membuat jumlah kendaraan yang masuk terus meningkat dan berdampak pada ketertiban arus lalu lintas. Salah satu pengusaha batik di Kampoeng Batik Laweyan, Gunawan M Nizar, saat ditemui Espos di tokonya, merasakan adanya peningkatan jumlah kendaraan yang datang ke kawasan tersebut. Namun demikian, jumlah kendaraan masih dapat ditampung di ruas jalan di wilayah itu. ”Memang sangat ramai, apalagi Sabtu Minggu. Namun sampai saat ini masih bisadiatasi oleh petugas,” katanya, Rabu (10/3). Namun seiring perkembangan kawasan, diperkirakan ruas jalan tidak dapat menampung kendaraan. Ketua Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL) Alpha Febela Priyatmono, mengatakan, telah ada pembicaraan dengan pihak Pemkot Solo untuk membangun lokasi parkir yang dapat menampung kendaraan wisatawan. ”Sudah ada pembicaraan ke arah situ, namun belum tahu akan dibangun di mana, itu wewenang Pemkot,” katanya. Lurah Laweyan, Soeyono mengakui perlu adanya kantong parkir. ”Keberadaan taman yang sebentar lagi dibangun warga, diharap dapat menunjang kenyamanan tamu.” m86

Sabtu, 25 Februari 2012

Wisata

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA Pasangan turis dari Belanda memanfaatkan waktu singgah kapal pesiar yang membawa mereka dengan berjalan-jalan di Kawasan Kota Lama, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (6/1/2012). Potensi wisata Kota Semarang seperti Kawasan Pecinan dan Kota Lama hingga saat ini belum tergarap dengan maksimal dalam menyambut wisatawan yang datang.

Jawa tengah berubah haluan dari pertanian menjadi berbasis pariwisata

Jawa Tengah tadinya berbasis pertanian. Tapiberubah haluan ke pariwisata. -- Budiyanto "Jawa Tengah tadinya berbasis pertanian. Tapi berubah haluan ke pariwisata. Jawa Tengah ituibarat orang tua, candi-candi kuno bertaburan dan situs-situs tua seperti Sangiran. Pusat budaya Jawa ya di Jawa Tengah," kata Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Jateng, Budiyanto, pada acara Dafam Hotel Management Media Gathering bersama Disbudpar Jawa Tengah, di Jakarta, Jumat (24/2/2012) malam. Pihaknya berharap Jawa Tengah dapat menjadi destinasi utama pariwisata nasional. Tak tanggung-tanggung, pihak provinsi mengeluarkan anggaran sebesar Rp 51 miliar untuk mengembangkan pariwisata Jawa Tengah. "Dana ini untuk pembangunan daya tarik wisata. Antara lain, pembangunan Museum Ranggawasita dan Monumen Palagan Ambarawa. Perbaikan Museum Kartini Rembang. Penataan kawasan Linggoasri, Pantai Kartini, Dieng, Simpang Lima. Lalu banjir kanal barat diperbaiki," jelas Budiyanto. Aksesibilitas menjadi salah satu agenda pembangunan yang dilakukan oleh Pemprov Jawa Tengah. Budiyanto menuturkan pembangunan antara lain jalan tol Semarang-Solo dan pembangunan jalur ganda kereta api. Selain itu, juga pembangunan jalan di desa-desa wisata, serta perluasan Bandara Achmad Yani di Semarang dan Bandara Adi Soemarno di Solo, serta perbaikan pelabuhan Tanjung Mas, akses kapal cepat KMC Kartini 1. "Pelabuhan Tanjung Mas sudah biasa menerima kapal pesiar. Juga yacht. Kalau KMC Kartini 1 ini untukakses ke Karimunjawa," tutur Budiyanto. Kegiatan pembenahan untuk menunjang pariwisata lainnya adalah sertifikasi bagi pemandu wisata. Juga, lanjutnya, pembangunan pusat jajanan dan oleh-oleh, pusatkerajinan, dan pusat informasi pariwisata (Tourism Information Centre). Pihaknya juga gencar mempromosikan "Visit Jawa Tengah 2013" melalui mobile branding pada lebih dari 25 taksi di Singapura. Budiyanto menuturkan saat ini sudah ada dua maskapai yang menyediakan direct flight Singapura-Jawa Tengah. "Singapura-Semarang ada Batavia. Kalau Solo ada Silk Air," jelasnya. Sedangkan penerbangan langsung dari Kuala Lumpur,Malaysia, disediakan maskapai AirAsia. Penerbangan rute Kuala Lumpur-Semarang dan Kuala Lumpur-Solo.