tri dekorasi kliwonan

Kami TRI Dekorasi kliwonan disolo melayani jasa sewa tanaman hias. ,rental tanaman untuk kantor apartemenHotel.gedung di wilayah solo  dan mini garden,dekorasi pernikahan,dekorasi siraman dan dekorasi kamar penggantin.Dekorasi bunga untuk peresmian kantor.dekorasi untuk acara peresmian dan seminar dikota solo,dekorasi bunga untuk acara wisuda di solo silahkan menghubungi kami di no tlp kami 085841216585(mas budi) 081240994973    (Mas yuli)082136353410  (pak sri)Kami juga menyediakan berbagai tanaman hias untuk keperluan kantor,rumah maupun apartemen anda di kota solo. Kami siap membantu mewujudkan keindahan dan keasrian dengan tumbuhan hias sehingga hati dan pikiran menjadi segar dan fresh kami tidak memasang harga namun harga bisa menyesuaikan sesuai anggaran anda diwilayah kota solo dan sekitarnya.kami tri dekorasi kliwonan mengucapkan terima kasih atas kunjungan anda somoga hari anda menjadi lebih berkesanSilahkan kalau ma hunting ke green office tri dekorasi kliwonan04/07, JL. Raya  Kalioso-Simo km 0,8, 57378, Boyolali

Dekorasi solo

Dekorasi solo kalioso ok
Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 April 2012

belajar ilmu Ikhlas

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita hati yang ikhlas. karena betapapun kita melakukan sesuatu hingga bersimbah peluh berkuah keringat, habis tenaga dan terkuras pikiran, kalau tidak ikhlas melakukannya, tidak akan ada nilainya di hadapan Allah. Bertempur melawan musuh, tapi kalau hanya ingin disebut sebagai pahlawan, ia tidak memiliki nilai apapun. Menafkahkan seluruh harta kalau hanya ingin disebut sebagai dermawan, ia pun tidak akan memiliki nilai apapun. Mengumandangkan adzan setiap waktu shalat, tapi selama adzan bukan Allah yang dituju, hanya sekedar ingin memamerkan keindahan suara supaya menjadi juara adzan atau menggetarkan hati seseorang, maka itu hanya teriakan-teriakan yang tidak bernilai di hadapan Allah, tidak bernilai! Ikhlas, terletak pada niathati. Luar biasa sekali pentingnya niat ini, karena niat adalah pengikat amal. Orang-orang yang tidak pernahmemperhatikan niat yang ada di dalam hatinya, siap-siaplah untuk membuang waktu, tenaga, dan harta dengan tiada arti. Keikhlasan seseorang benar-benar menjadi amat penting dan akan membuat hidup ini sangat mudah, indah, dan jauh lebih bermakna. Apakah ikhlas itu? Orang yang ikhlas adalah orangyang tidak menyertakan kepentingan pribadi atau imbalan duniawi dari apa yang dapat ia lakukan. Konsentrasi orang yang ikhlas cuma satu, yaitu bagaimana agar apa yang dilakukannya diterima oleh Allah SWT. Jadi ketika sedang memasukan uang ke dalam kotak infaq, makafokus pikiran kita tidak ke kiri dan ke kanan, tapi pikiran kita terfokusbagaimana agar uang yang dinafkahkan itu diterima di sisi Allah. Apapun yang dilakukan kalau konsentrasi kita hanya kepada Allah, itulah ikhlas. Seperti yang dikatakan Imam Alibahwa orang yang ikhlasadalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amalnya diterima oleh Allah. Seorang pembicara yangtulus tidak perlu merekayasa kata-kata agar penuh pesona, tapi ia akan mengupayakan setiap kata yang diucapkan benar-benar menjadi kata yang disukai oleh Allah. Bisa dipertanggungjawabkankebenarannya. Bisa dipertanggungjawabkanartinya. Selebihnya terserah Allah. Kalau ikhlas walaupun sederhana kata-kata kita, Allah-lah yang kuasa menghujamkannya kepada setiap qalbu. Oleh karena itu, jangan terjebak oleh rekayasa-rekayasa. Allah sama sekali tidak membutuhkan rekayasa apapun dari manusia. Allah Mahatahu segala lintasan hati, Mahatahu segalanya! Makin bening, makin bersih, semuanya semata-mata karena Allah, maka kekuatan Allah yang akan menolong segalanya. Buah apa yang didapat dari seorang hamba yang ikhlas itu? Seorang hamba yang ikhlas akan merasakan ketentramanjiwa, ketenangan batin. Betapa tidak? Karena ia tidak diperbudak oleh penantian untuk mendapatkan pujian, penghargaan, dan imbalan. Kita tahu bahwa penantian adalahsuatu hal yang tidak menyenangkan. Begitu pula menunggu diberi pujian, juga menjadi sesuatu yang tidak nyaman. Lebih getir lagi kalau yang kita lakukan ternyata tidak dipuji, pasti kita akan kecewa. Tapi bagi seorang hamba yang ikhlas, ia tidak akan pernah mengharapkan apapun dari siapapun, karena kenikmatan baginya bukan dari mendapatkan, tapi dari apa yang bisa dipersembahkan. Jadi kalau saudara mengepel lantai dan di dalam hati mengharap pujian, tidakusah heran jikalau nanti yang datang justru malah cibiran. Tidak usah heran pula kalau kita tidak ikhlas akan banyak kecewa dalam hidup ini. Orang yang tidak ikhlas akan banyak tersinggung dan terkecewakan karena ia memang terlalu banyak berharap. Karenanya biasakanlah kalau sudah berbuat sesuatu, kita lupakan perbuatan itu. Kita titipkan saja di sisi Allah yang pasti aman. Jangan pula disebut-sebut, diingat-ingat, nanti malah berkurang pahalanya. Lalu, dimanakah letak kekuatan hamba-hambaAllah yang ikhlas? Seorang hamba yang ikhlas akan memiliki kekuatan ruhiyah yang besar. Ia seakan-akan menjadi pancaran energiyang melimpah. Keikhlasan seorang hamba Allah dapat dilihat pula dari raut muka, tutur kata, serta gerak-gerik perilakunya. Kita akan merasa aman bergaul dengan orang yang ikhlas. Kita tidak curiga akan ditipu, kita tidak curiga akan dikecoh olehnya. Dia benar-benar bening dari berbuat rekayasa. Setiaptumpahan kata-kata danperilakunya tidak ada yang tersembunyi. Semua itu ia lakukan tanpa mengharap apapun dari orang yang dihadapinya, yang ia harapakan hanyalah memberikan yang terbaik untuk siapapun. Sungguh akan nikmat bila bergaul dengan seorang hamba yang ikhlas. Setiap kata-katanya tidak akan bagai pisau yang akan mengiris hati. Perilakunya pun tidak akan menyudutkan dan menyempitkan diri. Tidak usah heran jikalau orang ikhlas itu punya daya gugah dan daya ubah yang begitu dahsyat. Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut : Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptkana gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heranakan penciptaan gunungtersebut. Kemudian mereka bertanya? “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?” Allah menjawab, “Ada, yaitu besi” (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnyayang terbuat dari besi). Para malaikat pun kembali bertanya, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?” Allah yang Mahasuci menjawab, “Ada, yaitu api” (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer,dan mendidih setelah dibakar bara api). Bertanya kembali para malaikat, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?” Allah yang Mahaagung menjawab, “Ada, yaitu air” (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air). “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?” Kembali bertanya para malaikta. Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, “Ada, yaitu angin” (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat). Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, “Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?” Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, “Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya.” Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain. Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan. Nah, sahabat. Orang yang ikhlas adalah orangyang punya kekuatan, ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan.Allaahuakbar.

Rabu, 14 Maret 2012

Kata kata pengantar

KATA-PENGANTAR LAMA PADA ANTI-DÜHRING. TENTANG DIALEKTIKA Karya berikut ini sama sekali tidak berasal dari suatu “dorongan kalbu”. Sebaliknya, temanku Liebknecht dapat bersaksi akan usahanya yang keras untuk membujuk diriku mengarahkan sorotan kritik pada teori paling baru Herr Dühring mengenai sosialisme. Sekali kuputuskan untuk melakukan hal itu, aku tidak mempunyai pilihan lain kecuali menyelidiki teori ini, yang mengklaim merupakan buah praktikal terakhir dari suatu sistem filosofikal baru, dalam kaitannya dengan sistem ini, dan dengan demikian memeriksa sistem itu sendiri. Karenanya aku terpaksa mengikuti Herr Dühring ke dalam wilayah yang sangat luas, di mana ia berbicara mengenai segala hal yang mungkin dan mengenai hal-hal lain pula. Itulah menjadi asal-usul serentetan karangan yang muncul dalam Vorwärts Leipzig dari awal tahun 1877dan seterusnya dan disajikandi sini sebagai suatu kesatuan yang berangkaian. Apabila, karena sifat hal-ikhwalnya, kritik atas sebuah sistem, yang begitu sangat tidak berarti sekalipun segala puji-pujian diri, disajikan dengan begitu terinci, maka ada dua keadaan boleh disebutkan sebagai permaafan. Di satu pihak kritik ini memberikan kesempatan padaku untuk menguraikan –dalam bentukpositif– pandanganku di berbagai bidang mengenai masalah-masalah kontroversial yang dewasa ini mempunyai makna ilmiahyang sangat umum atau praktikal. Dan, sekali sedikitpun tidak terpikirkan olehku sebuah sistem lain sebagai sebuah alternatif pada sistem Herr Dühring, diharapkan bahwa, sekalipun beraneka-ragam bahan yang telah kuperiksa, para pembaca tidak akan luput melihat antar-kaitan yang juga terkandung dalam pandangan-pandangan yang telah kuajukan. Di pihak lain, Herr Dühring yang “pencipta-sistem” sama sekali bukanlah sebuahgejala terisolasi dalam Jerman masa-kini. Sudah beberapa lamanya di negeri itu, sistem-sistem filosofikal, terutama natural-filosofikal telah bermunculan berlusin-lusin bagaikan jamur di musim hujan, belum lagi kitasebutkan sistem-sistem baruyang tak terhitung banyaknya mengenai politik,ekonomi, dsb. Presis seperti di negara modern, dianggap bahwa setiap warganegara berkemampuan menjatuhkan keputusan akan segala permasalahan yang mengenainya ia dipanggil untuk memberikansuaranya; dan presis seperti itu dalam ekonomi dianggaplah bahwa setiap pembeli adalah seorang ahli mengenai semua barang-dagangan yang bertepatan dibelinya untuk kepentingannya sendiri–anggapan-anggapan serupa itulah kini mesti diputuskan dalam ilmu-pengetahuan. Setiap orang dapat menulis mengenai segala hal dan “kebebasan ilmu” justru terdiri atas orang-orang yang dengan sengaja menulis mengenai hal-hal yang tidak mereka pelajari dan mengemukakannya sebagai satu-satunya metode yang benar-benar ilmiah. Namun Herr Dühring adalah salah satu tipe paling karakteristik dari ilmu-semu yang penuh-sok ini, yang di Jerman dewasa ini di mana-mana mendesakkan dirinya ke depan dan menenggelamkan segala sesuatu dengan omong-kosong muluk-muluk yang gegap-gempita. Omong-kosong sublim dalam puitri, dalam filsafat, dalam ekonomi, dalam historiografi; omong-kosong muluk-muluk yang mengklaim suatu keunggulan dan kedalaman pemikiran dalam membedakannya dari omong-kosong pasaran yangsederhana dari bangsa-bangsa lain; omong-kosong muluk-muluk, produk massal paling karakteristik dari industri intelektual Jerman –murah tapi buruk– persis seperti barang-barang buatan-Jerman lainnya, hanya ia, malangnya, tidak dipamerkan bersama-sama di Philadelphia. Bahkan sosialisme Jerman akhir-akhir ini, teristimewa sejak contoh bagus dari Herr Dühring, telah gemar melakukan sejumlah besar omong-kosong muluk-muluk;kenyataan bahwa gerakan praktikal Sosial-Demokratik begitu pelit memmbiarkan dirinya disesatkan oleh omong-kosong muluk-muluk ini merupakan sebuah bukti lagi mengenai keadaan kesehatan yang luar biasa dari klas pekerja kita di sebuah negeri di mana, kecuali ilmu-pengetahuan alam, hampir segala sesuatu pada waktu sekarang sedang berpenyakitan. Ketika Nägeli, dalam pidatonya pada pertemuan para sarjana ilmu- alam di Munich, menyarakan gagasan bahwa pengetahuan manusia tidak akan pernah memperoleh watak kemaha-tahuan, ia pasti tidak mengetahui mengenai prestasi-prestasi Herr Dühring. Prestasi-prestasi ini telah memaksa diriku mengikutinya ke dalam sejumlah bidang di mana aku paling-paling dapat bergerak dalam kapasitas seorang diletante (pemerhati tetapi belum ahli). Ini terutama berlaku bagi berbagai cabang ilmu-pengetahuan alam, di mana hingga kini seringkali dianggap sebagai kepongahan bagi seseorang “awam” untuk ikut mengatakan sesuatu. Namun, aku sedikit banyak diberanikan, oleh sebuah ungkapan yang diucapkan –juga di Munich– oleh Herr Virchow dan di tempat lain didiskusikan secara lebih terinci, bahwa di luar bidang keahliannya sendiri, setiap sarjana alam hanyhalah seorang setengah-pemula, vulgo : awam. Tepat sebagaimana seorang ahli seperti itu dapat dan mesti memberanikan diri kadang-kadang melanggar bidang-bidang bertetangga, dan diberi kelonggaran di sana oleh para ahli bersangkutan dalam hal kekurang-cermatan kekurang-cermatan kecil dan kecanggungan dalam pengungkapan, maka telah kuberanikan diriku mengutib/menyitat proses-proses alamiah dan hukum-hukum alam sebagai contoh-contoh untuk membuktikan pandangan-pandangan teoretikalku secara umum, dan aku berharap bahwa diriku memperoleh kelonggaran-kelonggaran serupa. Hasil-hasil yang dicapai oleh ilmu pengetahuan alam modern memaksakan diri pada setiap orang yang berurusandengan masalah-masalah teoretikal dengan kekuatan tak-terelakkan yang sama yang mendorong ilmuwan alam dewasa ini mau-tak-mau pada kesimpulan-kesimpulan teoretikal umum. Dan di sini terjadilah suatu kompensasi tertentu. Apabila para ahli teori merupakan setengah-pemula di bidang ilmu pengetahuan alam, maka para sarjana alam dewasa ini sesungguhnya sama setengah-pemulanya di bidang teori, dalam bidang yang hingga kini disebut filsafat. Dalam setiap kurun, dan karenanya juga dalam kurun kita, pikiran teoretikal merupakan sebuah produk historikal, yang pada waktu-waktu berlainan mengambil bentuk-bentuk yang sangat berbeda dan, dengan begitu, isi/kandungan yang sangat berbeda pula. Ilmu mengenaipikiran karenanya, seperti semua ilmu lainnya, adalah suatu ilmu-pengetahuan historikal, ilmu-pengetahuanmengenai perkembangan historikal pikiran manusia. Dan ini juga penting sekali bagi penerapan pikiran secara praktikal di bidang-bidang empirikal. Karena, pertama-tama, teori hukum-hukum pikiran sama sekali bukanlah sebuah “kebenaranabadi” yang ditegakkan sekali dan untuk selamanya, sebagaimana penalaran filistine memba-yangkannya dengan kata “logika.” Logika formal itu sendiri telah menjadi medan kontroversi yang sengit dari zaman Aristoteles hingga sekarang. Dan dialektika sejauh ini telah diteliti secara cukup mendalam hanya oleh dua pemikir, Aristoteles dan Hegel. Adalah justru dialektika itu yang merupakan bentuk pemikiran yang paling penting bagi ilmu pengetahuan-alam masa kini, karena hanya dialektika itulah menawarkan analogi bagi, dan dengan demikian metode penjelasan dari proses-proses evolusioner yang terjadi dalam alam, antar-kaitan antar-kaitan pada umumnya, dan transisi-transisi dari satu bidang penelitian ke bidang penelitian lainnya. Kedua, suatu pengenalan dengan jalannya evolusi pikiran manusia secara historikal, dengan pandangan-pandangan mengenai antar-kaitan antar-kaitan umumnya di dunia eksternal yang diungkapkan pada berbagai waktu, diperlukan/disyaratkan oleh ilmu-pengetahun alam secara teoretikal karena alasan tambahan bahwa ia memenuhi sebuah kaidah mengenai teori-teori yang dikemukakan oleh ilmu itu sendiri. Namun, di sini kurangnya pengenalan sejarah filsafat cukup sering dan secara mencolok dipamerkan. Proposisi-proposisi yang diajukan dalam filsafat berabad-abad yang lalu, yang acapkali telahlama dikesampingkan secarafilosofikal, seringkali dikemukakan oleh para ilmuwan alam yang berteori sebagai kearifan baru-”gres”dan bahkan telah menjadi mode untuk beberapa waktulamanya. Memang suatu prestasi besar dari teori mekanikal tentang panas yang telah memperkuat azasmengenai konservasi energi dengan pengajuan bukti-bukti segar dan pengedepanannya kembali secara menonjol; tetapi mungkinkah azas ini muncul ke permukaan sebagai sesuatu yang mutlak baru jika para ahli fisika yang terhormat itu teringat kembali bahwa hal itu telah sudah dirumuskan oleh Descartes? Karena fisika dan kimia sekali lagi beroperasi nyaris secara ekslusif dengan molekul-molekul danatom-atom, maka mau tidakmau filsafat atomik Yunani kuno telah tampil kembali kedepan. Namun betapa dangkalnya itu diperlakukan oleh yang terbaik di antara mereka! Demikianlah Kekulé berkata pada kita ( Ziele und Leistungen der Chemie ) bahwa Democritus, yang semestinya Leucippus, yang melahirkannya, dan ia berkukuh bahwa Dalton ialahyang paling pertama menyatakan keberadaan (eksistensi) atom-atom elementer yang secara kualitatif berbeda-beda dan adalah yang pertama pula menjulukkan pada atom-atom itu berat-bobot berbeda-beda yang menjadi sifat berbagai unsur. Padahal, setiap orang dapat membaca dalam Diogenes Laertius (X, §§ 43-44 dan 61) bahwa Epicurus sudah menyatakan pada atom- atom itu perbedaan-perbedaan –tidak saja mengenai kebesaran (magnitude) dan bentuk, melainkan juga mengenai “berat,” yaitu, ia dengan caranya sendiri sudah mengenal berat atomik dan volume atomik. Tahun 1848, yang sebenarnya tidak membawaapapun hingga suatu ketuntasan di Jerman, di Jerman sana hanya menghasilkan sebuah revolusi di bidang filsafat. Dengan terjun ke dalam bidang yang praktikal, dengan mendirikan permulaan-permulaan industri modern dan pengecohan, dengan memprakarsai kemajuan perkasa yang dialami ilmu-pengetahuan alam di Jerman dan yang dilantik oleh para pengkhotbah keliling yang seperti-karikatur, yaitu Vogt, Büchner, dan sebagainya, bangsa Jerman itu dengan tegas membalikkan dirinya dari filsafat klasik Jerman yang telah tersesat di padang pasir Hegelianisme-Lama Berlin. Hegelianisme-Lama Berlin memang layak menerima (perlakuan)itu. Tetapi suatu bangsa (nasion)yang berniat mencapai puncak-puncak ilmu-pengetahuan tidak mungkin berhasil tanpa pikiran teoretikal. Tidak hanya Hegelianisme, tetapi juga dialektika dibuang ke laut –dan itu justru pada saat sifat dialektikal dari proses-proses alamiah tanpadapat ditahan memaksakan dirinya pada pikiran, manakala–karenanya–hanyadialektika dapat membantu ilmu-pengetahuan alam dalam menyeberangi bergunung-gunung teori– maka itu timbullah suatu kelengangan tak-berdaya dalam metafisika-lama. Yangberlaku di kalangan umum sejak itu yalah, di satu pihak, refleksi-refleksi hambar akan Schopenhauer, yang digayakan bagi kesesuaian kaum filistin, dan kemudian bahkan bagi Hartmann; dan di pihak lainnya, materialisme vulgar pengkhotbah-keliling dari seorang Vogt dan seorang Büchner. Di universitas-universitas, varitas-varitas eklektisisme yang paling beraneka-ragam bersaing satu sama lain dan hanya memiliki satu kesamaan, yaitu, bahwa kesemuanya itu hanya diramu dari sisa-sisa filsafat-filsafat lama dan bahwa kesemuanya itu sama-sama metafisikal. Segala yang diselamatkan dari sisa-sisa filsafat klasik adalah suatu neo-Kantianisme tertentu, yang kata-akhirnya yalah “benda-dalam-dirinya-sendiri” (thing-in-itself) yangselama-lamanya tidak-dapat-diketahui, yaitu, sekeping dari Kant yang paling tidak layak dilestarikan. Hasil akhirnya yalah inkoherensi (kengawuran/kekacauan) dan kebingungan pikiran teoretikal yang kini berkuasa. Orang nyaris tidak dapat memungut sebuah buku teori mengenai ilmu-pengetahuan alam tanpa memperoleh kesan bahwa para sarjana alam itusendiri merasa betapa mereka itu dikuasai oleh kekacauan dan kebingungan itu, dan bahwa apa yang dinamakan filsafat yang kini beredar, sama sekali tidak menawarkan suatu jalan keluar kepada mereka. Dan di sini memang benar-benar tidak ada jalan keluar, tidak ada kemungkinan untuk mencapai kejelasan, kecuali dengan berbalik, dengan suatu atau lain bentuk, dari pemikiran metafisika kepada pemikiran dialektikal. Balik pada pemikiran dialektikal ini dapat berlangsung dalam berbagai cara. Ia dapat terjadi secara spontan, semata-mata karena kekuatan penemuan-penemuan ilmu-alam itu sendiri, yang menolak untuk membiarkan dirinya dipaksa ke dalam alas metafisika Procrustean lama. Tetapi itu suatu proses berkepanjangan yang menyita banyak tenaga, yang selama itu disertai sejumlah sangat banyak pergesekan tak-perlu yang mesti ditanggulangi. Sampai batas yang jauh proses itu sudah berlangsung, terutama dalam biologi. Ia dapat sangat dipersingkat jika para ahli teori di bidang ilmu-pengetahuan alam lebih mengakrabkan diri mereka dengan filsafat dialektikal dalam bentuk-bentuk yang telah ada secara historikal. Di antara bentuk-bentuk ini terdapat dua buah yang mungkin istimewa bermanfaat bagi ilmu-pengetahuan alam modern. Yang pertama ialah filsafat Yunani. Di sini pikiran dialektikal masih tampil dalam kesederhanaannya yang murni, masih belum terganggu oleh rintangan-rintangan penuh pukauan yang dipasang oleh metafisika abad ke tujuhbelas dan ke delapanbelas–Bacon dan Locke di Inggris, Wolff di Jerman– dengan jalannya sendiri, dan yang dengan itu membendung kemajuannya sendiri, dari suatu pemahaman mengenai yangbagian pada suatu pemahaman mengenai yangmenyeluruh, pada suatu wawasan mengenai antar-keterkaitan umum benda-benda. Di antara orang-orang Yunani –hanya karena mereka belum cukup maju untuk membedah, menelaahalam–alam masih dipandangsebagai suatu keutuhan, pada umumnya. Keterkaitan universal dari gejala-gejala alam tidak terbukti dalam hal partikular-partikular; bagi orang-orang Yunani ia adalah hasil dari kontemplasi langsung. Di sinilah letak ketidak-sepadannya (kekurangan) filsafat Yunani, yang karenanya, ia kemudian mesti mengalah pada gaya-gaya pandangan lain mengenai dunia. Tetapi di sini juga letak keunggulannya di atas semua lawan metafisikal mereka berikutnya. Apabila metafisika Yunani benar dalam hal partikular-partikular, maka dalam hal metafisika orang-orang Yunani itu benar pada umumnya. Itulah sebabnya mengapa kita dalam filsafat diharuskan, seperti juga di begitu banyak bidang lainnya, untuk kembali dan kembali lagi pada prestasi-prestasi orang-orang kecil yang bakat-bakat universal dan kegiatannya memastikan kepadanya suatu tempat di dalam sejarah perkembangan manusia yang tidak akan pernah dapat diklaim oleh orang-orang lain. Namun, sebab lainnya yalah, bahwa aneka bentuk filsafat Yunani dalam embrionya mengandung, dalam keadaan awal kelahirannya, hampir semua cara pandangan mengenai dunia di masa-masa kemudian. Karena itu, ilmu-pengetahuan alam teoretikal juga dipaksa untuk kembali pada orang-orang Yunani apabila ia berhasrat menjejaki kembalisejarah asal-usul dan perkembangan azas-azas umum yang dipakainya dewasa ini. Dan wawasan inisemakin mendesakkan dirinya ke depan. Telah menjadi semakin langka contoh-contoh mengenai para sarjana ilmu-alam yang,sambil sendiri menggarap fragmen-fragmen filsafat Yunani, misalnya atomika, seperti dengan kebenaran-kebenaran abadi, memandang rendah orang-orang Yunani dengan kecongkakan Baconian, karena orang-orang Yunani itu tidak memiliki ilmu-pengetahuan alam empirikal. Bagi wawasan ini saja jauh lebih baik untuk melangkah pada suatu pengenalan yang sungguh-sungguh akan filsafat Yunani. Bentuk dialektika yang kedua, yaitu yang paling dekat pada para naturalis Jerman, yalah filsafat Jermanklasik, dari Kant hingga Hegel. Di sini sudah dilakukan suatu permulaan, yaitu bahwa telah menjadi mode untuk kembali pada Kant, bahkan terpisah dari neo-Kantianisme yang disebut di muka. Sejak pengungkapan bahwa Kant adalah pengarang dari dua hipotesis yang brilyan, tanpamana ilmu-pengetahuan alam teoretikal dewasa ini jelas-jelas tidak dapat maju–teori, yang tadinya dijulukkan pada Laplace, mengenai asal-usul sistem matahari dan teori mengenai penghambatan peredaran (rotasi) bumi olehpasang-surut–Kant kembali dihormati oleh kalangan sarjana ilmu-alam, sebagaimana yang memang layak diterima oleh Kant. Namun mempelajarai dialektika dalam karya-karyaKant akan merupakan suatu tugas yang sia-sia bersusah-payah dan berganjaran-kecil,karena kini telah terdapat, dalam karya-karya “Hegel,” suatu kompendum yang serba-lengkap mengenai dialektika, sekalipun itu dikembangkan dari suatu titik-keberangkatan yang sama sekali salah. Setelah–di satu pihak–reaksi terhadap “filsafat alam” melepas dayanya dan merosot menjadi sekedar cercaan–suatu reaksi yang terutama dibenarkan oleh titik-keberangkatan yang salah ini dan degenerasi tak-berdaya dari Hegelianisme Berlin; dan sesudah, di pihak lain, ilmu-pengetahuan alam secara teramat mencolok ditinggalkan dalam keterpurukan oleh metafisika eklektik dewasa ini sehubungan dengan persyaratan-persyaratan teoretikalnya, barangkali ada kemungkinan untuk sekali lagi menyebut nama Hegel di depan para sarjana ilmu-alam tanpa meman-cing tarian St.Vitus yang dengan begitu mengasyikkan diperagakan oleh Herr Dühring. Pertama-tama sekali mesti ditegaskan bahwa masalahnya di sini sama sekali bukanlah hal mempertahankan titik-berangkat Hegel: bahwa jiwa, pikiran, ide, adalah primer dan bahwa dunia realhanyalah sebuah salinan (copy) dari ide itu. Feuerbachsudah meninggalkan hal itu. Kita semua sependapat, bahwa di setiap bidang ilmu-pengetahuan, dalam ilmu-pengetahuan alam maupun ilmu pengetahuan historikal, orang mesti mulai dari “faktum-faktum” (fakta)tertentu, dalam ilmu-pengetahuan alam, karenanya, dari berbagai bentuk material dan berbagai bentuk gerak materi; bahwa karena itu, juga dalam ilmu-pengetahuan alam antar- keterkaitan antar-keterkaitan tidak boleh dibangun ke dalam fakta, melainkan mesti ditemukan di dalamnya, dan manakala ditemukan, mesti diverifikasi sejauh mungkin lewat eksperimen. Ia juga bukan masalah mempertahankan isi dogmatik dari sistem Hegelian sebagaimana itu dikhotbahkan oleh para Hegelian Berlin dari aliran yang lebih tua dan aliran yang lebih muda. Maka itu, dengan jatuhnya titik-berangkat idealis, sistem yang dibangun di atasnya, khususnya filsafat alam Hegelian, juga ikut jatuh. Namun mesti diingatkan, bahwa polemik para sarjana ilmu-pengetahuan alam terhadap Hegel, sejauh mereka memang memahami Hegel secara tepat, semata-mata ditujukan terhadap kedua hal ini: yaitu, titik-berangkat idealis itu, dan konstruksi (rancang-bangun) sistem itu yang sewenang-wenang danmengingkari fakta.Setelah semua ini dijadikan pertimbangan, masih tersisalah dialektika Hegel. Adalah jasa Marx bahwa, berlawanan dengan Eníyovo yang cuma sedang-sedang, congkak, rewel, yang kini berbicara besar di Jerman yang berkebudayaan, ia yang pertama kali mengedepankan kembali metode dialektikal yang telah dilupakan, kaitannya dengan dialektika Hegelian dan perbedaannya dari yang tersebut belakangan itu, dansekaligus telah menerapkan metode ini dalam Capital pada/atas faktum-faktum suatu ilmu-pengetahuan empirikal, ekonomi politik. Dan ia melakukannya sedemikian berhasil sehingga, bahkan di Jerman, aliran ekonomi yang lebih baru melampaui sistem perdagangan-bebas yang vulgar hanya dengan menyalin dari Marx (dan seringkali secara tidak tepat), dengan berdalih (berpura-pura) mengritiknya. Dalam dialektika Hegel masih berlaku inversi yang sama dari semua antar-keterkaitan seperti dalam semua cabang lainnya dalamsistemnya. Tetapi, sebagaimana dikatakan Marx: “Mistifikasi yang diderita dialektika dalam tangan Hegel, sedikitpun tidak menghalanginya untuk menjadi yang paling pertama menyajikan bentuk keberlakuannya (bekerjanya) secara umum secara komprehensif dan sadar. Dengan Hegel dialektika itu berdiri di atas kepalanya. Ia mesti dibalikkan agar berdiri secara benar, apabila orang hendak menemukan inti-rasional di dalam kulit mistikalnya.” Namun, di dalam ilmu-pengetahuan alam sendiri, kita cukup sering berjumpa dengan teori-teoridi mana hubungan yang sesungguhnya diberdirikan di atas kepalanya, refleksinya diambil dari bentuk aslinya dan yang karena itu perlu/mesti dibalikkan agar berdiri secara benar (di atas kakinya). Teori-teori seperti itu cukup sering berdominasiselama waktu panjang. Manakala selama hampir dua abad panas itu dipandang sebagai suatu substansi istimewa yang misterius, dan bukannya suatu bentuk gerak dari materi biasa, itu justru merupakan satu kasus seperti itu dan teori mekaninal mengenai panas melaksanakan pembalikan itu tadi. Namun begitu, fisikayang didominasi oleh teori kalorik menemukan se